Bencana
T epatnya sore itu, aku masih menerima telepon dari mu. Mendiskusikan beberapa hal yang tak ku sangka jadi bencana untuk kita. Terhitung 632 hari kita tak jumpa sejak dipisahkan oleh klakson panjang kereta api yang memekakkan telinga. Kau melambai dari ujung gerbong nomor 10 sembari menitipkan rindu pada kota yang telah berbaik hati membesarkanmu, aku turut melambai pada memori yang musti terjeda sampai suatu saat yang belum di renanakan kembali. Langit begitu ceria mengantarkanmu menuju impian. Meski hari itu kita sama-sama tau bahwa tidak ada yang menggembirakan dari sebuah perpisahan. Tapi kita juga sama-sama meyakini bahwa teknologi bernama internet setidaknya mengurangi kekhawatiran perihal jarak ini, kemudian berucap semoga dan amin. 632 hari berlalu baik-baik saja, walau dengan jaringan yang kadang buat mencak-mencak. - - - Hari itu pesan whatsapp dari mu masuk, isinya singkat saja; "Lusa aku akan kesana" Aku yang sedang mengikuti rapat mingguan hampir saja lompat ke...