Redum
Meski sudah ku sesap kopi ke-duaku, rasanya tetap tak ada gairah untuk membereskan setumpuk tugas, sederet notifikasi deadline, dan seonggok pikiran sialan yang bersarang di kepalaku sejak 3 pekan yang lalu. Hari-hari yang super duper kacau dan berantakan. Sedang aku diambang antara peduli –dan tidak peduli. Tapi orang-orang lebih tidak peduli, yang mereka tahu hanya "Mengapa kau bermalas-malasan?" "Kenapa kerjamu gak beres-beres?", dan bla bla bla bla... Sejujurnya aku paling benci omongan-omongan semacam itu. Aku sungguh bosan mendengarnya, karena bahkan pertanyaan –dan pernyataan itu sudah lebih dahulu mendiami kepalaku dan belum ada jawabnya. Persetan dengan orang lain bahkan mereka tidak membayar bill esspresso yang ku minum setiap pagi dan biaya sewa jasa seseorang yang mau dengar bacotan ku selama kurang lebih 60 menit kemudian dengan jinak mendengarkan dan memberi banyak omong kosong kesepian, itu kata mereka. Aku tidak mengerti, Orang-ora...