Postingan

Redum

Gambar
Meski sudah ku sesap kopi ke-duaku, rasanya tetap tak ada gairah untuk membereskan setumpuk tugas, sederet notifikasi deadline, dan seonggok pikiran sialan yang bersarang di kepalaku sejak 3 pekan yang lalu. Hari-hari yang super duper kacau dan berantakan. Sedang aku diambang antara peduli –dan tidak peduli. Tapi orang-orang lebih tidak peduli, yang mereka tahu hanya     "Mengapa kau bermalas-malasan?"     "Kenapa kerjamu gak beres-beres?", dan bla bla bla bla... Sejujurnya aku paling benci omongan-omongan semacam itu. Aku sungguh bosan mendengarnya, karena bahkan pertanyaan –dan pernyataan itu sudah lebih dahulu mendiami kepalaku dan belum ada jawabnya. Persetan dengan orang lain bahkan mereka tidak membayar bill  esspresso yang ku minum setiap pagi dan biaya sewa jasa seseorang yang mau dengar bacotan ku selama kurang lebih 60 menit kemudian dengan jinak mendengarkan dan memberi banyak omong kosong kesepian, itu kata mereka. Aku tidak mengerti, Orang-ora...

Ikut

Gambar
     "Kau mau kemana?"      "Pulang" Wajah gadis itu seketika mendung, bak ada awan kelabu yang menghalangi hangat sorot bola matanya.       "Kenapa?"      "Kenapa, apanya?"      "Harus pulang?"  Kemudian terdiam. Apakah rotasi bumi terhenti?       "Kenapa kau harus pulang?", Ia menegaskan ucapannya dengan hati-hati dan lirih.  "Tempatku bukan di sini, Amerta" "Lantas, untuk apa kau datang kemari?"   *** Akhir-akhir ini januari di guyur hujan, suhunya cukup untuk membuat kita menarik retsleting jaket dan memakai pakaian hangat. Tapi khusus sore ini, langitnya cerah ceria dengan sisa becek air hujan. Meski begitu, ia —gadis dihadapanku sedang berkecamuk hatinya dan aku yang seketika merasa diinterogasi langsung merasa kegerahan       "Aku berkelana, Amerta.      Tapi sungguh aku harus kembali", dengan berat hati ku sampaikan maksud kepergia...

Bencana

Gambar
T epatnya sore itu, aku masih menerima telepon dari mu. Mendiskusikan beberapa hal yang tak ku sangka jadi bencana untuk kita. Terhitung 632 hari kita tak jumpa sejak dipisahkan oleh klakson panjang kereta api yang memekakkan telinga. Kau melambai dari ujung gerbong nomor 10 sembari menitipkan rindu pada kota yang telah berbaik hati membesarkanmu, aku turut melambai pada memori yang musti terjeda sampai suatu saat yang belum di renanakan kembali. Langit begitu ceria mengantarkanmu menuju impian. Meski hari itu kita sama-sama tau bahwa tidak ada yang menggembirakan dari sebuah perpisahan. Tapi kita juga sama-sama meyakini bahwa teknologi bernama internet setidaknya mengurangi kekhawatiran perihal jarak ini, kemudian berucap semoga dan amin. 632 hari berlalu baik-baik saja,  walau dengan jaringan yang kadang buat mencak-mencak. - - - Hari itu pesan whatsapp dari mu masuk, isinya singkat saja; "Lusa aku akan kesana" Aku yang sedang mengikuti rapat mingguan hampir saja lompat ke...

Pengecut

Gambar
  Sudah berapa kereta yang melaju hari ini? membawa pergi seluruh perasaan menuju kota lain Sedang aku hanya diam memerhatikan laju kereta -dan perasaan yang pergi bersamanya. Sudah setengah hari sepertinya. Tetiba seorang remaja tanggung yang mukanya kusut mendekatiku             “Saya seorang pengecut, kak” Kemudian saya menoleh ke belakang dan hanya mendapati sepi             “Kenapa?”             “Saya selalu pergi dan lari” Aku menyiritkan dahi. Anak itu diam menatap kosong, sampai begitu lama. Ia menerawang ke suatu ketika yang entah Aku ikut terdiam, namun kata katanya berputar bak bianglala dalam kepalaku Pengecut selalu pergi dan lari Lantas, sedang apa aku di sini? –dari arsip dokumen usang 16/12/2020 : 12.23 pm

Dunia

Gambar
Di suatu sore yang gerimis aku melihat seorang anak perempuan dengan pakaian lembap dan lusuh sedang memakan sepotong roti bertabur meses coklat. Tentu roti itu entah ia dapatkan dari mana, tapi matanya berbinar melahap rizkinya hari itu. Aku menghampirinya sembari meneduh dari percikan air langit yang kian bergerombol. Ia peka dengan kehadiranku, gestur tubuhnya bicara      "Kamu tinggal di mana?", aku bertanya agak canggung Kemudian ia menunjuk suatu arah,     "Di sana?", aku memerhatikan arah jari telunjuknya, tapi yang kutemukan adalah macet lampu merah ibu kota. Kumudian ia -sembarang- menunjuk arah yang lain.      "Jadi, di mana?"     "Di mana-mana, Tidak di mana-mana" Aku tersenyum,      "Tidak apa-apa"     "Tidak apa-apa tidak punya rumah?"     "Tidak apa-apa jika tidak punya rumah, kamu bisa berkelana melihat dunia"     "Benar", ia tersenyum seperti tidak ada beban dipundaknya   ...

Ruangan

Gambar
Saya tinggal di rumah lama yang sudah sangat kuno. Bukan hanya sebatas bangunannya, barang-barang di sini minimal berusia 50 tahun, 2 kali lipat lebih umur saya. Beberapa pikir di sini juga kuno, menerapkan sistem dari peradaban lama pada era yang sudah jauh dari reformasi. Apakah saya kuno? bisa ya, juga tidak. Untuk beberapa hal saya terlihat kuno dan tidak keren namun bukan masalah besar, saya juga tidak peduli. Maksudnya, saya tidak benar-benar peduli untuk hal tersebut. Setiap orang berhak memilih pedulinya, bukan? meski saya sering kali peduli dengan suatu yang untuk apa dipedulikan. Tentu saya kesal, karena sebab itu kepala saya jadi lebih ramai dari macet ibu kota senin pagi. Ah, pantas saya tidak suka bangun pagi! kepala saya akan tambah ramai kalau bersatu dengan macet Jakarta.  Tapi, pagi itu saya bangun paling awal.  Rumah ini, bukan tak pernah di renovasi. Tentu sudah beberapa kali melakukan perbaikan; kayu yang keropos, cat yang memudar, aliran listrik yang konsl...

Sederhana

Gambar
Sepasang suami istri itu selalu menggelitik ingatan ku dengan hidupnya yang amat bahagia dengan cara yang sederhana. Oh, mungkin kita tidak pernah tau apa yang ada di balik mereka, yang aku tau mereka sedang melawan takdir kejam dunia dengan puji-pujian syukur terhadap tuhan selalu.  Kala itu aku sedang berkelana, dan singgah di suatu desa. Mereka hidup pada sebuah gubuk tua persegi di hilir sungai. Saat awal jumpa, mereka masih pasangan muda belum lama menikah dan belum juga ku lihat bocah di sana. Hangat sekali mereka menyambut dan menjamu ku dengan ubi talas yang baru mereka cabut dari hilir sungai depan gubuknya, si mamang -begitu aku memanggil suaminya gemar sekali bernyanyi dan bercerita sambil menjahit sedangkan si teteh -istrinya pintar membuat aneka makanan dan menyulam dengan indah. Begitulah cara mereka bertahan hidup. Di hilir sungai itu juga banyak umbi dan sayur yang mereka tanam sendiri, katanya supaya uang yang di miliki untuk beli beras saja, sedang sisanya di tabu...