Bencana

Tepatnya sore itu, aku masih menerima telepon dari mu. Mendiskusikan beberapa hal yang tak ku sangka jadi bencana untuk kita. Terhitung 632 hari kita tak jumpa sejak dipisahkan oleh klakson panjang kereta api yang memekakkan telinga. Kau melambai dari ujung gerbong nomor 10 sembari menitipkan rindu pada kota yang telah berbaik hati membesarkanmu, aku turut melambai pada memori yang musti terjeda sampai suatu saat yang belum di renanakan kembali.

Langit begitu ceria mengantarkanmu menuju impian. Meski hari itu kita sama-sama tau bahwa tidak ada yang menggembirakan dari sebuah perpisahan. Tapi kita juga sama-sama meyakini bahwa teknologi bernama internet setidaknya mengurangi kekhawatiran perihal jarak ini, kemudian berucap semoga dan amin.

632 hari berlalu baik-baik saja, 

walau dengan jaringan yang kadang buat mencak-mencak.



- - -

Hari itu pesan whatsapp dari mu masuk, isinya singkat saja;

"Lusa aku akan kesana"

Aku yang sedang mengikuti rapat mingguan hampir saja lompat kegirangan, mataku berbinar bak bocah dijanjikan segumpal permen kapas.

Fokusku kacau sekali siang itu karena hati yang terus berdebar menanti kepulanganmu. Entah berapa menit berlalu, akhirnya rapat selesai. Tergesa-gesa aku mencari posel untuk segera menghubungi mu

    "Halo, kamu beneran akan ke sini"

    "Beneran, dong"

    "Kok mendadak banget?"

    "Ya, sekalian ada keperluan"

Diam-diam aku mensyukuri 'keperluannya',

    "Berapa hari?"

    "Sebentar saja, paling sehari atau dua hari"

    "Yah..."

    "Lusanya lagi aku sudah ada kerjaan lagi"

    "Tidak bisa ditunda?"

    "Sudah dulu ya, nanti kita bicara lagi"

Kau memutuskan sambungan telepon, ada rasa kecewa menghampiri. Memang akhir-akhir ini kau sedang sibuk dengan project-project kerjamu. Tak apa.

Seperti hari-hari kemarin, malam itu aku meneleponmu duluan sekalian bertanya jadwal singkat kepulanganmu. Siapa tau kita masih sempat melipir makan malam di pinggiran taman menteng, tapi ternyata kau menolak, kau bilang akan lelah sekali jika harus mampir-mampir dulu. 

Mau mu, kita hanya perlu bertemu untuk sekedar melepas rindu dan ngobrol-ngobrol santai sambil hangout di mall setelah kau menyelesaikan urusan mu. Dan esoknya kita akan kembali menemui perpisahan panjang (mungkin) sampai tiba-tiba ada urusan mendadak lagi yang membawamu pulang.

Pembicaraan malam itu kaku dan dingin, kau memutuskan semuanya sepihak, semaumu. Seperti menanggap semua usulku terlalu berlebihan, merepotkan, dan lain kali saja. Entah lain kali yang kapan yang kau maksud, jelas-jelas kepulanganmu tak pernah jelas sedangkan rindu ini jelas-jelas sudah sangat jelas. Huh.

Setelah genap setahun berjarak, aku baru menyadari bahwa jarak adalah bencana.


bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia

Sederhana

Hai