Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

Redum

Gambar
Meski sudah ku sesap kopi ke-duaku, rasanya tetap tak ada gairah untuk membereskan setumpuk tugas, sederet notifikasi deadline, dan seonggok pikiran sialan yang bersarang di kepalaku sejak 3 pekan yang lalu. Hari-hari yang super duper kacau dan berantakan. Sedang aku diambang antara peduli –dan tidak peduli. Tapi orang-orang lebih tidak peduli, yang mereka tahu hanya     "Mengapa kau bermalas-malasan?"     "Kenapa kerjamu gak beres-beres?", dan bla bla bla bla... Sejujurnya aku paling benci omongan-omongan semacam itu. Aku sungguh bosan mendengarnya, karena bahkan pertanyaan –dan pernyataan itu sudah lebih dahulu mendiami kepalaku dan belum ada jawabnya. Persetan dengan orang lain bahkan mereka tidak membayar bill  esspresso yang ku minum setiap pagi dan biaya sewa jasa seseorang yang mau dengar bacotan ku selama kurang lebih 60 menit kemudian dengan jinak mendengarkan dan memberi banyak omong kosong kesepian, itu kata mereka. Aku tidak mengerti, Orang-ora...

Ikut

Gambar
     "Kau mau kemana?"      "Pulang" Wajah gadis itu seketika mendung, bak ada awan kelabu yang menghalangi hangat sorot bola matanya.       "Kenapa?"      "Kenapa, apanya?"      "Harus pulang?"  Kemudian terdiam. Apakah rotasi bumi terhenti?       "Kenapa kau harus pulang?", Ia menegaskan ucapannya dengan hati-hati dan lirih.  "Tempatku bukan di sini, Amerta" "Lantas, untuk apa kau datang kemari?"   *** Akhir-akhir ini januari di guyur hujan, suhunya cukup untuk membuat kita menarik retsleting jaket dan memakai pakaian hangat. Tapi khusus sore ini, langitnya cerah ceria dengan sisa becek air hujan. Meski begitu, ia —gadis dihadapanku sedang berkecamuk hatinya dan aku yang seketika merasa diinterogasi langsung merasa kegerahan       "Aku berkelana, Amerta.      Tapi sungguh aku harus kembali", dengan berat hati ku sampaikan maksud kepergia...