Ikut
"Kau mau kemana?"
"Pulang"
Wajah gadis itu seketika mendung, bak ada awan kelabu yang menghalangi hangat sorot bola matanya.
"Kenapa?"
"Kenapa, apanya?"
"Harus pulang?"
Kemudian terdiam.
Apakah rotasi bumi terhenti?
"Kenapa kau harus pulang?",
Ia menegaskan ucapannya dengan hati-hati dan lirih.
"Tempatku bukan di sini, Amerta"
"Lantas, untuk apa kau datang kemari?"
***
Akhir-akhir ini januari di guyur hujan, suhunya cukup untuk membuat kita menarik retsleting jaket dan memakai pakaian hangat. Tapi khusus sore ini, langitnya cerah ceria dengan sisa becek air hujan. Meski begitu, ia —gadis dihadapanku sedang berkecamuk hatinya dan aku yang seketika merasa diinterogasi langsung merasa kegerahan
"Aku berkelana, Amerta.
Tapi sungguh aku harus kembali", dengan berat hati ku sampaikan maksud kepergian ku.
"Orang-orang telah menjadi zombie, Al"
"Di sana lebih banyak zombie, percayalah"
"Lalu kenapa kamu harus pulang?"
"Kenapa kamu terus bertanya, Ta?"
"Justru kamu yang kenapa, membalas tanya ku dengan tanya?"
Aku menghentikan mesin sepeda motor ku,
"Dengar ya, Amerta. Aku harus pulang. di sana, di kota ku sedang tidak aman."
"Aku ikut"
"Untuk apa? Sudah ku katakan, di sana tidak aman!"
"Aku aman bersama mu, Al"
"Meskipun banyak zombie?", goda ku
"Meskipun di sana banyak zombie" ia meyakinkan ku.
Senyumnya merekah
Kemudian ia menyulap sore itu menjadi musim semi.

Komentar
Posting Komentar