Dunia

Di suatu sore yang gerimis aku melihat seorang anak perempuan dengan pakaian lembap dan lusuh sedang memakan sepotong roti bertabur meses coklat. Tentu roti itu entah ia dapatkan dari mana, tapi matanya berbinar melahap rizkinya hari itu. Aku menghampirinya sembari meneduh dari percikan air langit yang kian bergerombol.

Ia peka dengan kehadiranku, gestur tubuhnya bicara
    "Kamu tinggal di mana?", aku bertanya agak canggung

Kemudian ia menunjuk suatu arah,
    "Di sana?", aku memerhatikan arah jari telunjuknya, tapi yang kutemukan adalah macet lampu merah ibu kota.

Kumudian ia -sembarang- menunjuk arah yang lain. 
    "Jadi, di mana?"
    "Di mana-mana, Tidak di mana-mana"
Aku tersenyum, 
    "Tidak apa-apa"
    "Tidak apa-apa tidak punya rumah?"
    "Tidak apa-apa jika tidak punya rumah, kamu bisa berkelana melihat dunia"
    "Benar", ia tersenyum seperti tidak ada beban dipundaknya

    "Eren", ia menjulurkan tangan
Kemudian kami berkenalan dan lekas berkelana melihat dunia versinya. Dunia yang tentunya sungguh berbeda dengan dunia yang dimiliki anak lain seusianya




    "Kamu pernah bersedih, Eren?"
    "Untuk apa?"
    "Apapun"

Ia menggeleng,
    "Tidak pernah benar-benar bersedih"
    "Mengapa?"
    "Tuhan yang hibur aku", ujarnya sambil menunjuk taburan bintang

Eren, gadis kecil yang bijaksana.
Hari itu, aku belajar banyak dari seorang gadis kecil yang mengajakku menyusuri dunianya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sederhana

Hai