Kota mu

Suatu saat kau mengajakku menengok kota mu yang telah lama usang. Aku tak paham betul apa maksud tujuanmu kala itu, tapi ku iya kan saja meski dengan seribu tanya di kepala. Kita mengendarai sepeda motor butut mu yang sudah batuk-batuk, kau bilang maaf karena terpaksa meninggalkan polusi di kota yang telah mempertemukan kita. 

Perjalanan ini seperti mengajakku napak tilas masa lalu mu yang selama ini kau bungkam, bahkan kau yang biasanya rewel kini diam seribu bahasa. Memaksaku memecahkan teka-teki mu sendirian

Kota mu seperti kota mati, dan kita seperti alien yang baru saja tiba dari planet lain. 
Kota mu begitu kacau, entah apa yang terjadi.

Perjalanan kita terhenti persimpangan dekat rumah mu, dan kau tak mengizinkan ku melangkah lebih jauh. Kau memintaku untuk diam di sini saja, dan menunggumu hilang entah kemana. Tak ada yang bisa ku lakukan selain setuju dan memperhatikan punggungmu hilang dari kejauhan

Kemudian kau hilang seperti masuk ke dalam sebuah rumah, dan pandang ku menyapu sekitar. Ternyata kota ini jauh lebih mengerikan, separuh dari penduduknya bak zombie bergelimpangan di jalan. Orang-orang yang masih waras meringkuk ketakutan di rumahnya, mengharap pertolongan

Tak lama ia kembali,
    "Apa yang terjadi?"
wajahnya kuyu dan tatapannya nanar. selebihnya, tak ada sepatah kata pun yang mampu menjelaskan situasi ini
    "Bagaimana?", aku bertanya perihal keluarganya
    "Mereka aman, semoga"
    "Ya, semoga"
kemudian terdiam lagi sebelum akhirnya ia mengambil tanganku dan membawa ku pergi
    "Kita hendak kemana?"
    "Apotek"
meski terus-terusan di buat bingung, aku pergi bersamanya.

    "Untuk apa kita kesini?", aku tak tahan untuk tidak terus terusan bertanya 
    "Mencari obat"
    "Apakah ada obatnya?"
ia menaikan kedua bahunya tanda tak tahu. Aku menunggu di kursi dekat dengan pot berisi monstera sementara ia berputar-putar di rak obat-obatan.

Tak lama ia kembali dan duduk di sampingku,
    "Sudah dapat obatnya?"
ia masih diam. Kemudian memeluku erat sekali. Merasakan detak jantungnya yang memburu dan menyerap ke khawatiran dalam dirinya, aku balas memeluknya
    "Kau obatnya, Ra"

Dan, aku menyaksikan kota itu porak poranda di depan mata

    "Begitulah aku, Ra."
Gantian aku yang memeluknya sampai matahari menyelesaikan tugasnya hari itu.

 
  
  "Tapi kita tidak bisa, Ra"
ia melepas peluk ku, rembulan yang tadinya ingin bersinar indah nampak ragu-ragu muncul di antara perasaan yang sedang gundah
    "Tidak bisa apa?"
    "Bersama"
aku memandangi ujung sepatu ku yang tidak kenapa-napa
    
    "Aku tau itu"
    "Maaf"
    "Aku tau sejak kau melarangku masuk ke rumah mu"

    "Ra, jika yang kau butuhkan adalah rumah untuk pulang, itu bukan aku"
    "Terima kasih sudah mengizinkan ku singgah"
    "Kau lekas akan segera menemukannya"
    "Itu doa?"
    "Itu takdir untukmu"
    

  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia

Sederhana

Hai