Meleset
Aku membeli ikan mas koi karena ku pikir dunia selalu menyediakan ku kawan yang lebih pandai bicara dari sekadar makhluk kecil yang berenang-renang di dalam toples bekas slai kacang milikku, ternyata tidak.
Aku tidak bilang ikan kecil itu buruk, bahkan ia lebih baik karena tidak akan komplain meski aku ngedumel berjam-jam sampai mulutku berbusa dan aku kesal sendiri karena yang ia bisa lakukan hanya mengitari toples dan makan pelet yang bolak-balik aku tuangkan selama bicara. Tak apa.
Aku pernah menjadi penentang nomor satu sebuah argumen bahwa di dunia ini kamu pasti akan merasakan benar-benar kesepian tanpa ada seorang pun yang memedulikanmu atau seperti setiap orang akan berubah dan perlahan meninggalkanmu, menurutku itu tanggapan yang buruk karena mana mungkin orang yang benar-benar kau cintai sepenuh hati dan mencintaimu seluruh nadi bisa meninggalkanmu.Tapi aku kena karma.
Ya, ya anggap saja itu lucu
Nyatanya menyebalkan sekali ya, hal itu kenapa harus ada dan terjadi. Sepertinya tak peduli apa kepribadianmu (intovert atau extrovert) akan benar-benar tidak ingin hal itu terjadi hanya agar kau berkenalan dan bertemu orang lain.
Tapi begitulah, manusia gemar menduga seperti sedang memanah. Busur dipinggang adalah dugaan, ketika dilontarkan bisa saja tepat, bisa saja meleset. Pun jarang sekali pemanah yang membidik busurnya tepat terus menerus.
Terima dengan hati yang lapang dan berdoalah
Siapa tahu, kelak ada yang hadir lebih baik dari seekor ikan mas koi (yang bisa bicara tentunya).

Komentar
Posting Komentar