Ruangan

Saya tinggal di rumah lama yang sudah sangat kuno. Bukan hanya sebatas bangunannya, barang-barang di sini minimal berusia 50 tahun, 2 kali lipat lebih umur saya. Beberapa pikir di sini juga kuno, menerapkan sistem dari peradaban lama pada era yang sudah jauh dari reformasi. Apakah saya kuno? bisa ya, juga tidak. Untuk beberapa hal saya terlihat kuno dan tidak keren namun bukan masalah besar, saya juga tidak peduli.
Maksudnya, saya tidak benar-benar peduli untuk hal tersebut. Setiap orang berhak memilih pedulinya, bukan? meski saya sering kali peduli dengan suatu yang untuk apa dipedulikan. Tentu saya kesal, karena sebab itu kepala saya jadi lebih ramai dari macet ibu kota senin pagi. Ah, pantas saya tidak suka bangun pagi! kepala saya akan tambah ramai kalau bersatu dengan macet Jakarta. 

Tapi, pagi itu saya bangun paling awal. 

Rumah ini, bukan tak pernah di renovasi. Tentu sudah beberapa kali melakukan perbaikan; kayu yang keropos, cat yang memudar, aliran listrik yang konslet. Namun, turun-temurun susunan rumah ini tetap saja sama, tidak pernah ada benda yang bergeser dari tempat semulanya meski yang lama sudah pensiun. Tahun 2008 adalah renovasi besar-besaran yang dilakukan untuk rumah ini, adik saya masih bayi merah dan saya hanya anak SD yang susah bangun pagi. Akhirnya kami diungsikan ke rumah nenek sementara rumah kami diperbaiki.
 

Sudah 12 tahun kiranya, rumah ini butuh perbaikan lagi. Loteng atap konon sudah jadi sarang tikus, saya yang tak sudi langsung buru-buru minta hama itu dibasmi. Ibu setuju dan mendesak bapak untuk memanggil tukang untuk membenarkan atap yang sudah bolong-bolong sarana hama itu keluar masuk.
Ibu minta di cat ulang dengan warna-warna favoritnya yang fantastis; kuning, hijau terang, pink norak dan jingga yang terlihat bahagia. Jangan kaget, meski kuno dari dulu rumah ini memang jadi sarana bermain warna. Tentu saya tidak heran dengan pilihan ibu, mandor cat yang katanya sering dapat proyek di luar negri kegirangan bilang "wonderful, wonderful" mungkin merasa seru juga cat rumah warna-warni begini, haha!

Kemudian yang membuat saya bangun pagi begitu semangat adalah, 
akhirnya susunan ruangan rumah ini di ubah. Meja makan yang sebenarnya tidak terpakai sudah di buang karena saya dan kakak melempar kardus yang hampir 10kg keatasnya. Alhasil, kaki-kakinya yang mulai keropos kepayahan dan patah. Ia di buang dengan tragis, saya dan kakak hanya cengar-cengir karena tidak kena marah. Ruangan bekas meletakan meja makan akhirnya kosong, dan kami tidak berniat membeli meja makan baru. Alasannya sungguh simpel, orang sunda makan lesehan. Meja itu hanya untuk meletakkan lauk pauk. 

Ruangan kosong itu tepat berada di hadapan tangga, yang artinya ruangan itu sebenarnya titik pusat kami bertemu. Maka, kami sepakat menjadikan itu ruang keluarga yang baru. Menyenangkan sekali rasanya, mengingat ruang keuarga kami yang lama posisinya kurang intim untuk membentuk suatu hubungan keluarga. Setelah ruang keluarga ini rapih, malamnya kami langsung merayakan dengan makan bersama dan menonton film serial keluarga. Bahkan saya hampir lupa kapan terakhir kami berkumpul, makan malam, nonton, dan tertawa bersama dalam suatu ruangan yang begitu akrab. Tiba-tiba kami merasa lebih kuno, karena melupakan ponsel pintar kami. Dan saya menikmati sambil mengucap syukur berkali-kali


Ya, Sebab ini lah, keesokannya saya bangun pagi-pagi menyetel kartun keras-keras agar adik dan kakak saya lekas bangun dan menonton tv bersama di minggu pagi sambil makan nasi uduk. Kegiatan yang sudah lama sekali tidak kami lakukan, mengingat kami yang sudah tumbuh dewasa dengan urusan masing-masing. Usaha saya berhasil, mereka bangun dan merapat ke ruang ini. Menikmati sarapan pagi dan kartun favorit bersama sampai kami tersadar kalau sama-sama memiliki urusan lain yang juga harus dikerjakan.

Damai lah selalu, penuh cinta dan dalam keberkahan.
Aamiin!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia

Sederhana

Hai